teori beban kognitif
cara mengambil keputusan saat otak sudah terlalu lelah
Pernahkah kita berdiri di depan kulkas yang terbuka, menatap kosong ke deretan botol air dingin dan wadah plastik berisi sisa lauk kemarin, lalu merasa seolah sedang disuruh memecahkan rumus fisika kuantum? Padahal kita hanya ingin memutuskan makan malam apa hari ini. Atau mungkin teman-teman pernah menghabiskan waktu 45 menit menelusuri aplikasi pesan-antar makanan, scroll naik-turun tanpa henti, hanya untuk akhirnya memesan nasi goreng dari warung langganan yang sama seperti minggu lalu.
Jika iya, mari tarik napas lega bersama-sama. Kita sama sekali tidak plin-plan. Kita juga tidak sedang kehilangan jati diri. Apa yang kita alami di depan kulkas pada jam delapan malam itu adalah sebuah fenomena biologis yang sangat nyata. Otak kita sekadar sedang mengibarkan bendera putih. Setelah seharian dipakai untuk berpikir, memecahkan masalah di kantor, membaca berita, hingga menavigasi kemacetan jalanan, otak kita kehabisan bahan bakar. Fenomena ini nyata, dan sains punya penjelasan yang sangat elegan tentang mengapa memilih menu makan malam tiba-tiba terasa sama beratnya dengan memilih instrumen investasi.
Untuk memahami apa yang terjadi di dalam kepala kita, kita harus mundur sedikit ke tahun 1988. Saat itu, seorang psikolog pendidikan bernama John Sweller memperkenalkan sebuah gagasan brilian yang disebut Cognitive Load Theory atau teori beban kognitif. Sweller mengibaratkan otak kita, secara spesifik memori kerja atau working memory kita, layaknya meja kerja. Meja ini ukurannya sangat kecil. Secara ilmiah, memori kerja kita hanya mampu menampung sekitar tiga hingga tujuh bongkahan informasi pada satu waktu tertentu.
Bayangkan setiap keputusan yang kita buat sejak bangun tidur sebagai tumpukan kertas yang ditaruh di atas meja kecil tersebut. Memilih baju yang akan dipakai, menimbang rute perjalanan menghindari macet, membalas email bernada pasif-agresif dari klien, hingga memutuskan membalas chat di grup keluarga atau tidak. Semua itu memakan ruang. Menjelang malam, "meja kerja" di otak kita sudah penuh sesak dan berantakan. Tidak ada lagi ruang tersisa. Otak kita ini sangat rakus energi; meski beratnya hanya sekitar 2% dari total berat tubuh, ia mengonsumsi 20% energi kita. Jadi, saat beban kognitif ini melampaui kapasitas, otak tidak lagi memproses informasi dengan baik. Ia mulai mencari jalan pintas untuk menghemat kalori.
Di sinilah situasi mulai menjadi sedikit menegangkan. Ketika meja kerja otak kita sudah penuh dan energi terkuras habis, kita masuk ke dalam fase yang oleh para psikolog disebut sebagai decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan. Kondisi ini punya konsekuensi yang jauh lebih besar daripada sekadar salah pilih rasa martabak. Otak yang lelah akan selalu memilih jalan yang paling sedikit hambatannya.
Ada sebuah studi klasik (meski sering diperdebatkan detailnya, namun esensinya tetap relevan) tentang hakim-hakim pembebasan bersyarat di Israel. Data menunjukkan bahwa narapidana yang kasusnya disidangkan pada pagi hari atau tepat setelah hakim selesai makan siang, memiliki peluang jauh lebih besar untuk dikabulkan pembebasan bersyaratnya. Sebaliknya, kasus yang disidangkan sesaat sebelum jam istirahat makan atau di penghujung hari, hampir pasti ditolak. Mengapa? Karena menolak pembebasan bersyarat adalah pilihan default yang paling aman. Keputusan itu tidak menuntut otak si hakim untuk berpikir keras menimbang risiko.
Sekarang, mari kita bawa ini ke kehidupan kita sendiri. Pertanyaannya kemudian menjadi krusial: Jika otak kita secara biologis akan "korsleting" ketika kelelahan, lalu bagaimana cara kita mengambil keputusan penting di penghujung hari yang berat? Apakah kita hanya bisa pasrah membiarkan otak yang kelelahan menyabotase keuangan, hubungan, atau karier kita?
Ternyata, rahasia dari orang-orang yang piawai mengambil keputusan bukanlah pada kekuatan otak mereka yang tak terbatas, melainkan pada bagaimana mereka menjaga "meja kerja" tetap bersih. Kita tidak bisa memperbesar ukuran meja tersebut, tetapi kita bisa mengontrol apa saja yang boleh diletakkan di atasnya.
Langkah pertama yang paling ampuh adalah mengubah diri kita dari seorang maximizer menjadi seorang satisficer. Seorang maximizer akan mencari pilihan yang paling sempurna, membandingkan 20 restoran sebelum memesan makan malam. Ini sangat menguras energi. Sedangkan satisficer akan menentukan kriteria dasar—misalnya "yang penting hangat dan berkuah"—lalu memilih opsi pertama yang memenuhi kriteria tersebut. Cukup itu saja. Selesai.
Langkah kedua adalah menciptakan default rules atau aturan baku untuk rutinitas harian. Ini alasan mengapa tokoh sejarah atau inovator seperti Steve Jobs atau Barack Obama memakai baju yang warnanya itu-itu saja setiap hari. Mereka sedang melakukan outsourcing atau membuang keputusan sepele agar beban kognitif mereka tersimpan untuk keputusan yang benar-benar mengubah dunia. Jika kita sudah membuat aturan bahwa "setiap hari Rabu makan malamnya ikan" atau "jam 9 malam tidak ada lagi membalas pesan pekerjaan", kita tidak perlu lagi menggunakan memori kerja untuk berpikir. Biarkan sistem yang memutuskan untuk kita.
Jadi, teman-teman, mari kita berdamai dengan biologi tubuh kita sendiri. Merasa buntu dan kelelahan mental bukanlah tanda bahwa kita lemah atau kurang minum kopi. Itu adalah sinyal yang sangat valid dari sebuah organ superkomputer di dalam tengkorak kita yang meminta waktu untuk pendinginan.
Mulai hari ini, ketika kita menyadari kepala sudah terasa berat dan menatap layar ponsel terasa menyiksa, jadikan itu sebagai lampu merah. Jangan pernah mengambil keputusan penting saat lelah. Tidak perlu memaksa diri memikirkan rencana karier lima tahun ke depan saat kita baru saja melewati tiga meeting berturut-turut. Maafkan diri kita jika malam ini kita memilih makan mi instan lagi. Tidurlah, istirahatkan meja kerja di kepala kita, dan percayalah, dunia beserta segala keputusan besarnya akan terlihat jauh lebih jernih besok pagi.